Banyak orang tua terjebak di antara dua pilihan: menjadi terlalu keras (otoriter) yang bisa melukai perasaan anak, atau menjadi terlalu longgar (permisif) yang membuat anak tidak punya pegangan.
Disiplin Positif menawarkan jalan tengah. Ini adalah metode yang berfokus pada pengajaran dan bimbingan jangka panjang, bukan sekadar hukuman jangka pendek.
Berikut adalah pilar-pilar utama dalam menetapkan batasan menggunakan disiplin positif, beserta pandangan para ahlinya.
Ini adalah konsep inti dari disiplin positif.
Isi Konten: Batasan (aturan) harus disampaikan dengan tegas (firm), artinya konsisten dan jelas. Namun, cara penyampaiannya harus tetap baik hati (kind), yang menunjukkan rasa hormat pada anak sebagai individu.
Menurut Ahli: Dr. Jane Nelsen, penulis buku "Positive Discipline," menekankan bahwa disiplin yang efektif harus memenuhi kedua kriteria ini secara bersamaan.
Menjadi tegas saja akan menimbulkan rasa takut dan pemberontakan.
Menjadi baik hati saja (permisif) akan membuat anak bingung dan tidak aman.
Contoh Praktis:
Bukan Disiplin Positif: "SUDAH IBU BILANG BERAPA KALI, MATIKAN TV-NYA SEKARANG!" (Tegas, tapi tidak baik hati).
Bukan Disiplin Positif: "Ayo dong, Nak, matikan ya TV-nya... ya? (Anak mengabaikan dan ibu pasrah)" (Baik hati, tapi tidak tegas).
Disiplin Positif: (Ibu memegang remote dan menatap anak dengan tenang) "Waktu menonton TV sudah habis, Nak. Sekarang waktunya mandi. Kamu mau matikan TV-nya sendiri atau Ibu bantu?" (Tegas pada aturan, tapi baik hati dalam penyampaian dan memberi pilihan).
Disiplin positif tidak hanya melihat perilaku buruk, tetapi mencari tahu penyebab perilaku itu.
Isi Konten: Anak-anak "berperilaku buruk" bukan karena mereka jahat, tetapi karena mereka memiliki "keyakinan yang keliru" (mistaken goals) dalam usaha mereka untuk merasa diterima (belonging) dan berarti (significance).
Menurut Ahli: Psikiater Rudolf Dreikurs, yang teorinya menjadi dasar disiplin positif, mengidentifikasi empat tujuan keliru utama:
Mencari Perhatian (Attention): "Saya penting hanya jika orang lain memperhatikan saya."
Mencari Kekuasaan (Power): "Saya penting hanya jika saya bisa mengatur atau membuktikan tidak ada yang bisa mengatur saya."
Balas Dendam (Revenge): "Saya merasa tersakiti, jadi saya akan menyakiti balik."
Menyerah/Tidak Mampu (Assumed Inadequacy): "Saya tidak bisa, jadi jangan berharap apa-apa dari saya."
Contoh Praktis: Jika anak tantrum karena ingin mainan di toko (tujuan: kekuasaan/perhatian), alih-alih menghukum, ibu mencoba memahami. "Ibu tahu kamu sangat ingin mainan itu. Tapi hari ini kita ke toko hanya untuk beli susu. Yuk, bantu Ibu cari susunya." (Emosi divalidasi, batasan tetap ditegakkan).
Hukuman membuat anak merasa bersalah, malu, atau sakit hati. Fokus pada solusi membuat anak belajar memecahkan masalah.
Isi Konten: Saat terjadi masalah (misalnya, anak menumpahkan minuman), jangan fokus menyalahkan. Ajak anak untuk fokus pada apa yang bisa dilakukan untuk memperbaikinya.
Menurut Ahli: Dr. Laura Markham, penulis "Peaceful Parent, Happy Kids," mempopulerkan frasa "Connection before Correction" (Koneksi sebelum Koreksi). Saat anak berbuat salah, langkah pertama adalah membangun koneksi emosional, baru kemudian mencari solusi.
Contoh Praktis:
Fokus Hukuman: "Tuh, kan, tumpah! Kamu ini ceroboh sekali! Sana, jangan main di sini lagi!"
Fokus Solusi (Koneksi dulu): "Wah, tumpah ya airnya." (Validasi situasinya). "Tenang, tidak apa-apa. Yuk, kita bersihkan sama-sama. Kamu ambil lap di dapur ya." (Anak dilibatkan dalam solusi).
Konsekuensi adalah hasil alami atau logis dari sebuah tindakan, sedangkan hukuman seringkali tidak berhubungan dan bertujuan untuk menyakiti.
Isi Konten: Konsekuensi logis harus terkait langsung dengan perilaku, disampaikan dengan hormat (bukan marah-marah), dan diungkapkan di awal (jika memungkinkan).
Menurut Ahli: Para ahli disiplin positif membedakan ini dengan jelas. Dr. Jane Nelsen memberikan contoh:
Hukuman: Anak menolak membereskan mainan, lalu ibu bilang, "Oke, karena kamu tidak bereskan mainan, kamu tidak boleh nonton TV!" (Tidak berhubungan).
Konsekuensi Logis: Anak menolak membereskan mainan. Ibu berkata, "Jika mainan tidak dibereskan, artinya kamu belum siap bertanggung jawab. Mainan ini akan Ibu simpan dulu sampai besok kamu siap merapikannya setelah selesai bermain." (Berhubungan langsung).
Isi Konten: Saat anak sedang emosional (tantrum, marah), otak logis mereka ("otak atas") sedang tidak aktif. Menasihati atau memarahi tidak akan berhasil. Ibu perlu terhubung dengan emosi mereka ("otak bawah") terlebih dahulu.
Menurut Ahli: Dr. Daniel Siegel, seorang neuropsikiater dan penulis "The Whole-Brain Child," menyarankan strategi "Connect and Redirect."
Connect (Hubungkan): Validasi emosi mereka. "Ibu tahu kamu marah sekali karena harus berhenti main." Gunakan sentuhan dan nada suara lembut.
Redirect (Arahkan): Setelah anak mulai tenang, baru ajak logika dan aturan. "Sekarang sudah malam, waktunya tidur. Besok kita bisa main lagi."
Contoh Praktis: Anak menangis karena waktu bermain di taman habis.
Connect: Ibu berjongkok, "Pasti sedih ya harus pulang padahal lagi seru main ayunan." (Peluk anak).
Redirect: (Setelah anak sedikit tenang) "Matahari sudah mau terbenam, udaranya juga makin dingin. Kita pulang sekarang, besok kita ke sini lagi."
Intinya: Menetapkan batasan dan disiplin positif adalah tentang mengajarkan anak cara berpikir dan bertindak, bukan apa yang harus dipikirkan. Ini adalah proses jangka panjang yang membangun rasa hormat, tanggung jawab, dan keterampilan sosial.